Di Balik Proyek Ruben Amorim

30 Dec 2025, 17:33 WIB

Ruben Amorim perlahan mulai menciptakan jejaknya di Manchester United. Perubahan struktur permainan mulai terlihat, hasil positif pun mulai datang, termasuk kemenangan tipis atas Newcastle United di Old Trafford.

Sayangnya, di balik hasil positif itu, ada satu isu yang terus berulang. Manchester United masih kesulitan mengontrol pertandingan, terutama ketika sudah unggul dan dipaksa bertahan lama.

Amorim sendiri menyadari hal tersebut. Ia menilai fondasi sudah mulai terbentuk, tetapi evolusi timnya belum sepenuhnya selesai.

Sejak tiba di Old Trafford pada November 2024, Ruben Amorim menegaskan bahwa perubahan tidak akan terjadi secara instan. Ia pernah mengibaratkan pergantian sistem seperti Paus yang diminta mengubah keyakinan, sebuah metafora tentang pentingnya proses dan tahapan.

Dalam sebuah konferensi pers pada September, Amorim menegaskan bahwa evolusi adalah keniscayaan. Namun, menurutnya, setiap langkah harus diperhitungkan dampaknya terhadap tim secara menyeluruh.

Pendekatan itu tercermin dalam fleksibilitas taktik Manchester United. Meski dikenal dengan sistem tiga bek, Amorim tidak kaku. Struktur permainan bisa berubah sesuai fase laga, mulai dari build-up, pressing tinggi, hingga bertahan dalam blok rendah.

Di atas kertas, Manchester United sering terlihat menggunakan tiga bek. Namun, dalam praktiknya, bentuk tim kerap bergeser. Dalam beberapa laga awal, United bahkan menekan lawan dengan struktur 4-4-2.

Melawan Bournemouth, misalnya, Amad tampil lebih tinggi dibandingkan Diogo Dalot dalam skema menyerupai 3-4-3 yang timpang. Sementara saat menang 1-0 atas Newcastle United, struktur menyerupai 4-2-3-1 terlihat jelas ketika United menguasai bola, dengan Matheus Cunha bergerak bebas dari sisi kiri.

Perubahan paling mencolok justru muncul saat bertahan di blok menengah. Dalam beberapa laga terakhir, United meninggalkan pola lima bek. Mereka sempat bertahan dengan 4-4-2, 4-3-3, hingga 4-2-3-1, tergantung lawan dan konteks pertandingan.

Babak Kedua Man United: Ketika Kontrol Mulai Hilang

Masalah muncul setelah jeda. Intensitas bertahan yang tinggi mulai menggerus stamina dan konsentrasi. Amorim melakukan pergantian dengan memasukkan Joshua Zirkzee dan Leny Yoro, sambil mengubah profil pemain sayap untuk menahan tekanan dari sisi lapangan.

Dalot didorong lebih tinggi di kanan, sementara Patrick Dorgu berpindah ke kiri. Tujuannya jelas, memberikan perlindungan ekstra bagi bek sayap menghadapi ancaman lebar Newcastle.

Sayangnya, seiring waktu, United mulai kehilangan kendali. Gelandang Newcastle tidak lagi dijaga seketat babak pertama. Pergerakan tanpa bola Guimaraes dan Tonali menciptakan ruang, terutama di 10 menit terakhir, ketika United bertahan sangat dalam.

Amorim mengakui situasi itu selepas laga. Ia menilai timnya harus menderita lebih banyak dibandingkan pertandingan lain, meski ada kepuasan melihat para pemain rela mengorbankan tubuh demi menghalau setiap bola.

Dalam pandangan Amorim, kunci persoalan ada pada satu kata: kontrol. Minimnya penguasaan bola di babak kedua memaksa Manchester United terus bertahan, kondisi yang cepat menguras tenaga dan fokus.

loading